Home Others 5 Cara Terapkan Konsep Digital Branding Tanpa Bad Publicity

5 Cara Terapkan Konsep Digital Branding Tanpa Bad Publicity

by Justin Sutanto
Ilustrasi gambar digital branding

Di era digital, taktik pemasaran semakin beragam. Ada yang rajin membombardir netizen dengan iklan pop-up dan ada yang mengandalkan media sosial. Ada juga yang sengaja memancing sedikit ‘drama’ di dunia maya. Tujuannya tentu saja agar netizen tertarik dengan produk yang mereka tawarkan, baik secara langsung maupun tidak.

Terlepas dari alasan seseorang memakai taktik bad publicity untuk promosi, sebenarnya masih banyak cara lain untuk menerapkan konsep digital branding yang bersih! Namun, sebelumnya mari kita simak dulu definisi digital branding.

Definisi Digital Branding

Digital branding adalah usaha mendesain serta membangun brand produk di dunia maya lewat platform digital. Penerapannya bisa dilakukan melalui website, blog, media sosial, aplikasi digital, dan lain-lain.

Strategi ini sudah dikenal lebih efektif dan cepat dalam menjangkau pelanggan. Koneksi cepat tercipta dan berkenalan dengan pelanggan dapat dilakukan sembari menyusun strategi pemasaran.

Digital branding agak berbeda dengan digital marketing. Bila digital marketing terfokus pada usaha memasarkan produk, maka digital branding adalah usaha untuk memperkuat image produk tersebut di benak pelanggan. Semakin kuat image produk tersebut, semakin mudah pelanggan mengingatnya.

Bila semakin banyak yang ingat, tinggal tunggu waktu saat mereka mulai tertarik untuk mencari tahu sebelum akhirnya membeli. Apalagi bila kamu bisa membuat konsep digital branding produkmu semakin disukai dan menarik untuk dibagikan ulang. Bila sampai viral, semakin banyak orang yang ingat akan produkmu.

Sayangnya, demi viralitas, banyak konseptor digital branding yang sampai menempuh segala cara. Meskipun viralitas akhirnya didapatkan, bad publicity kemudian merusak image produk tersebut. Ingat, cancel culture sangat berpengaruh pada bisnis saat ini. Memang terkesan tidak adil, namun itulah kenyataan bisnis digital saat ini.

Contoh Digital Branding Dengan Bad Publicity

Jadi, seperti apakah contoh penerapan konsep digital branding dengan bad publicity?

Pernah ada seorang entrepreneur yang membuat keributan di jagad Twitter. Awalnya, produk kuliner yang dipromosikannya sempat dituduh mencontek produk pebisnis lain. Alih-alih berusaha menjelaskan, pebisnis tersebut malah beralasan bahwa orang yang menyontek pun banyak yang sukses.

Drama di Twitter belum sampai di situ. Saat pelaku di balik brand produk menunjukkan video memasak makanan tanpa memakai hairnet, banjir kritik pun terjadi. Netizen memberi saran agar yang memasak memakai hairnet, namun malah ditanggapi dengan sinis. Bahkan, pebisnis tidak suka dan malah mengancam netizen yang menurutnya tidak sopan saat mengkritik.

Belum selesai masalah tersebut, ada yang menyadari kemiripan logo brand produk dengan brand lain yang sudah ada. Singkat cerita, drama tersebut kemudian menguap tanpa solusi. Memang, masih ada netizen yang tetap tertarik untuk membeli produk kuliner tersebut.

Namun, kelangsungan produk kuliner tersebut tidak jelas. Akun Twitter sampai di-set ke privat dan logo produk menghilang. Siapa pun yang menganggap bad publicity bukan sesuatu yang buruk sepertinya keliru menerapkan konsep digital branding.

Pada kenyataannya, digital branding baru benar-benar berhasil bila ikatan emosional dengan pelanggan tercipta dan terjalin dengan erat. Bila sejak awal pendekatannya sudah salah, akan sulit untuk membuat orang tertarik dengan produknya.

5 Cara Menggunakan Konsep Digital Branding Tanpa Kontroversi

Ilustrasi gambar konsep digital branding

Singkatnya, bad publicity atau publisitas buruk adalah mempromosikan produk melalui kontroversi. Contoh di atas merupakan salah satu usaha digital branding dengan bad publicity.

Meskipun berhasil menarik perhatian, sudah terbukti bahwa bad publicity tidak akan membuat produk tersebut laku cukup lama. Begitu kehebohannya berakhir, orang malah akan cepat lupa akan produk tersebut. Apalagi bila tidak didukung dengan usaha memperbaiki image produk tersebut.

Masih banyak cara menggunakan konsep digital branding tanpa kontroversi. Inilah kelima (5) contohnya agar kamu tidak sampai melakukan kesalahan yang sama:

1. Logo Harus Catchy dan Tetap Original

Jangan hanya demi terlihat catchy, kamu terang-terangan menyontek logo yang sudah ada. Bolehlah terinspirasi, namun usahakan tetap original. Hindari bentuk logo terlalu rumit. Pastikan juga logo dapat dipasang di berbagai tempat.

2. Website Harus Mudah Diingat dan User-Friendly.

Nama website yang singkat lebih mudah diingat daripada yang terlalu panjang. Selain itu, website yang mudah diakses akan membuat pengunjung mau kembali. Pastikan kapasitas website-nya tidak terlalu berat. Hindari memasang iklan pop-up terlalu banyak.

3. Brand Messaging Harus Jelas dan Konsisten.

Misalnya: produk yang mau kamu promosikan adalah es gelato dengan bahan-bahan alami lokal, namun berkualitas tinggi. Sebutlah elemen penting itu saat branding.

4. Manfaatkan Teknik SEO agar Produk Mudah Dicari.

Bila sudah banyak produk sejenis beredar, manfaatkan teknik SEO On-Page dan teknik SEO Off-Page sebagai bagian dari penerapan konsep digital branding. Selain agar produk lebih mudah dicari di mesin pencari Google, kamu bisa tahu keinginan pelanggan lewat kata kunci yang paling banyak dipakai.

5. Manfaatkan Media Sosial agar Semakin Banyak yang Familiar dengan Produkmu.

Dengan konsisten posting berupa foto-foto produk dan caption menggugah secara teratur di media sosial, akan semakin banyaklah yang tertarik dengan produkmu.

Inilah penerapan konsep digital branding tanpa kontroversi.

Related Posts

Leave a Comment